Seni Melepaskan: Mengapa Ingatan yang Pudar Adalah Anugerah
By Admin

Ilustrasi
nusakini.com, Di dalam ruang kelas College of Charleston yang berdengung pelan, puluhan pasang mata mahasiswa menatap tajam ke arah selembar kertas putih di atas meja. Mereka tengah berusaha keras menyelesaikan tugas sederhana dari psikolog Gabrielle Principe untuk menggambar detail sekeping koin dari ingatan, namun tak ada satu pun yang berhasil.
Kegagalan hening di ruang kelas tersebut mematahkan ilusi besar bahwa pikiran manusia bekerja selayaknya brankas baja yang merekam segalanya. Selama ini, budaya pop sering kali memuja karakter fiktif dengan memori fotografis yang absolut, sehingga kita berkhayal bahwa otak mampu memutar ulang realitas dengan sempurna.
Namun, sains justru membuktikan bahwa menjadi manusia berarti kita harus tunduk pada proses kelupaan yang alamiah. Psikolog Simona Ghetti menegaskan bahwa apabila otak manusia menahan segalanya tanpa terkecuali, kita akan hidup di tempat yang sangat berantakan dan kelebihan beban.
Tanpa kemampuan untuk lupa, otak kita akan kehilangan kompas penting untuk menentukan prioritas dalam menyortir ribuan pengalaman harian. Membuang detail-detail masa lalu yang remeh pada akhirnya menjadi cara terbaik bagi pikiran untuk memberi ruang agar kita tetap tangguh di masa kini.
Dalam prosesnya, memanggil sebuah ingatan bukanlah seperti memutar kaset lama, melainkan membangun ulang sebuah gedung dari kepingan sel saraf yang tersebar di otak. Dalam kepanikan merajut kepingan masa lalu itu, pikiran kerap memungut serpihan imajinasi atau ucapan orang lain, yang kemudian merangkai sebuah memori palsu di kepala kita.
Meskipun memori palsu sering kali tidak berbahaya dalam obrolan keseharian, keyakinan rapuh ini bisa berakibat fatal jika dijadikan kesaksian mutlak di ruang sidang pengadilan. Terlepas dari kelemahannya, pikiran manusia senantiasa bekerja layaknya kurator museum yang berhati-hati, yang rela membuang memori menyedihkan lebih cepat demi menjaga stabilitas emosional kita.
Ketidaksempurnaan ingatan ini sejatinya bukanlah sebuah keputusasaan, melainkan sebuah ruang hangat bagi tumbuhnya nostalgia yang menenangkan jiwa. Tepian masa lalu yang mulai mengabur justru mengizinkan seorang ibu untuk senantiasa mengenang anak-anak dewasanya sebagai bayi yang lelap, kapan pun ia membutuhkannya. (*)